Langsung ke konten utama

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS)

 

1. Definisi

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) adalah gangguan endokrin–metabolik kronik pada wanita usia reproduktif yang ditandai oleh kombinasi:

  • Disfungsi ovulasi
  • Hiperandrogenisme klinis dan/atau biokimia
  • Morfologi ovarium polikistik

PCOS bukan semata-mata penyakit ovarium, melainkan sindrom sistemik dengan implikasi reproduksi, metabolik, dan kardiovaskular jangka panjang.


2. Epidemiologi

  • Prevalensi global: 6–15% (tergantung kriteria diagnostik)
  • Merupakan penyebab tersering anovulasi kronik
  • Prevalensi lebih tinggi pada populasi Asia dengan fenotipe metabolik dominan

3. Kriteria Diagnosis (Rotterdam 2003 – digunakan secara luas)

Diagnosis ditegakkan bila terdapat ≥2 dari 3 kriteria, setelah eksklusi penyebab lain:

  1. Oligo/anovulasi
  2. Hiperandrogenisme
    • Klinis: hirsutisme, akne, alopecia androgenik
    • Biokimia: testosteron total/bebas meningkat
  3. Morfologi ovarium polikistik (PCOM)
    • ≥20 folikel/ovarium (USG resolusi tinggi)
    • atau volume ovarium ≥10 mL

📌 PCOS adalah diagnosis eksklusi


4. Patofisiologi (Konsep Inti)

PCOS terjadi akibat interaksi kompleks genetik dan lingkungan, dengan tiga pilar utama:

A. Disfungsi Aksis Hipotalamus–Hipofisis–Ovarium

  • ↑ pulsasi GnRH
  • ↑ LH, LH/FSH ratio >2
  • Stimulasi sel teka → ↑ androgen

B. Resistensi Insulin & Hiperinsulinemia

  • Insulin meningkatkan produksi androgen ovarium
  • ↓ SHBG hepatik → ↑ androgen bebas
  • Memperberat anovulasi

C. Gangguan Folikulogenesis

  • Folikel terhenti pada fase antral kecil
  • Tidak terjadi seleksi folikel dominan
  • Ovulasi gagal

📌 Insulin resistance adalah kunci patogenesis non-reproduktif PCOS


5. Fenotipe PCOS (Rotterdam)

Fenotipe Karakteristik
A (klasik) HA + OA + PCOM
B HA + OA
C HA + PCOM
D OA + PCOM

Fenotipe A & B → risiko metabolik tertinggi


6. Manifestasi Klinis

Reproduktif

  • Oligomenore / amenore
  • Infertilitas anovulatorik
  • Abortus berulang

Hiperandrogenisme

  • Hirsutisme
  • Akne persisten
  • Alopecia

Metabolik

  • Obesitas sentral
  • Dislipidemia
  • Intoleransi glukosa / DM tipe 2

7. Pemeriksaan Penunjang

Laboratorium

  • LH, FSH
  • Testosteron total/bebas
  • SHBG
  • OGTT (disarankan)
  • Profil lipid

Imaging

  • USG transvaginal ovarium

📌 AMH sering tinggi, tetapi bukan kriteria diagnosis


8. Komplikasi Jangka Panjang

  • Infertilitas
  • Ovarian Hyperstimulation Syndrome (OHSS)
  • DM tipe 2
  • Hipertensi
  • Penyakit kardiovaskular
  • Kanker endometrium (akibat estrogen unopposed)

9. Prinsip Tatalaksana (Berbasis Tujuan)

A. Tidak Ingin Hamil

  • Modifikasi gaya hidup
  • Kontrasepsi hormonal kombinasi
  • Antiandrogen (spironolakton) dengan kontrasepsi

B. Ingin Hamil

  • Penurunan berat badan
  • Letrozole (first-line ovulation induction)
  • Metformin (pada insulin resistance)
  • IVF dengan protokol rendah risiko OHSS

10. PCOS & Kehamilan

Risiko meningkat:

  • GDM
  • Preeklampsia
  • Abortus
  • Preterm birth

11. Poin Klinis Penting

  • PCOS ≠ ovarium polikistik saja
  • Insulin resistance adalah pusat patofisiologi
  • Risiko OHSS tertinggi pada PCOS
  • Letrozole adalah gold standard ovulation induction
  • Skrining metabolik wajib

12. Ringkasan High-Yield (Ujian & Klinik)

  • Diagnosis: Rotterdam
  • Fenotipe A paling berat
  • AMH tinggi ≠ diagnosis
  • Letrozole > clomiphene
  • PCOS meningkatkan risiko OHSS dan GDM

Daftar Pustaka (Vancouver)

  1. Hoffman BL, Schorge JO, Schaffer JI, et al. Williams Gynecology. 4th ed. New York: McGraw-Hill; 2020.
  2. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, et al. Williams Obstetrics. 26th ed. New York: McGraw-Hill; 2022.
  3. Teede HJ, Misso ML, Costello MF, et al. International evidence-based guideline for the assessment and management of PCOS. Hum Reprod. 2018;33(9):1602–18.
  4. Fauser BCJM, Tarlatzis BC, Rebar RW, et al. Consensus on women’s health aspects of PCOS. Hum Reprod. 2012;27(1):14–24.
  5. Azziz R, Carmina E, Chen Z, et al. Polycystic ovary syndrome. Nat Rev Dis Primers. 2016;2:16057.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Networking: The Power of Orang Dalam

Hohoiii. Apa kabar nak! R u ok today? Kali ini bapak akan bercerita tentang tips salah satu kiat untuk membuat lancar kehidupan. Menurut bapak yg udah merasakannya dan mungkin sesekali mengalaminya tp mungkin bapak tidak menyadarinya. Networking - berjejaring. Ya. Berteman dan berkoneksi. Bukan tentang internet tapi tahu kenal dan paham dengan orang orang. Makin kesini makin paham, kenapa Islam mengajarkan kepada kita untuk memperbanyak silaturahmi. Mengeratkan silaturahmi karena ternyata banyak manfaatnya. Bukan tentang ooo kalo silaturahmi itu biar nanti dibantu trus cuma ke orang orang tertentu saja yg di datangi dijalin silaturahmi nya. Tidak. Tidak seperti itu. Alloh mengajarkan kepada kita untuk bersilaturahmi kepada jejaring kita besar kecil saudara belum saudara, akrab tetangga dengan kolega. Indah kan Islam. Kenapa. Kita tidak pernah tahu kapan kita terpeleset, kita ga pernah tahu kapan kita dalam posisi stuck stall dalam keadaan sempit atau lapang. Dan juga kita ga pernah tah...

Setiap pertemuan..

Bismillah. Hari ini ada berita yang kembali mengingatkan saya bahwa di setiap pertemuan itu pasti ada perpisahan, cepat atau lambat . Innalillahi wa inna ilaihi raa'jiun. Meninggalnya ibunda dari Mbak Annisa Inayati M. S., S. Ked. Seperti yang saya ungkapkan tadi, setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Dalam sebuah awal yang manis, pahit, senang ataupun jengkel dengan seseorang akan menjadi pertemuan, yang disini akan saya namakan momen bertemu. dan saya kadang pun menamakannya jodoh, ya karena jodoh bagi saya adalah semua orang yang berkesempatan untuk bertemu saya. Apakah pertemuan selalu sesuai yang kita ingin kan? lalu apakah pertemuan itu selalu sesuai yang kita rencanakan? Kata orang - orang jodoh pun demikian. Jadi berikan kesan terbaik kepada orang yang bertemu kita. Sesingkat apapun pertemuan kita. Alangkah indah ketika kita dapat memberikan kesenangan, senyum bahagia ketika perpisahan akan tiba. Dalam premi pertama yang saya tekankan "Setiap pertemuan pasti ...

Peripartum Cardiomyopathy (PPCM): Kriteria Diagnosis dan Penatalaksanaan

Definisi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah suatu kondisi gagal jantung yang berkembang pada trimester terakhir kehamilan atau dalam waktu lima bulan setelah melahirkan, tanpa penyebab yang jelas seperti penyakit jantung yang sudah ada sebelumnya.  --- Patofisiologi Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) Secara Hormonal dan Biomolekuler Peripartum Cardiomyopathy (PPCM) adalah kondisi gagal jantung yang terjadi pada trimester akhir kehamilan atau dalam lima bulan setelah melahirkan, tanpa adanya riwayat penyakit jantung sebelumnya. Secara patofisiologis, PPCM dianggap sebagai kardiomiopati dilatasi yang idiopatik, tetapi berbagai faktor hormonal dan biomolekuler dapat berperan dalam perkembangannya. Pemahaman tentang patofisiologi hormon dan biomolekuler PPCM penting untuk mengembangkan pendekatan terapi yang lebih baik. Beberapa perubahan hormonal selama kehamilan berperan penting dalam pengembangan PPCM: 1. Peningkatan Prolaktin Prolaktin, yang meningkat secara signifikan selama ke...